Saya Pergi Dulu Ya Mbak…..

Ternyata bukan hanya kematian yang membuatku terpukul kehilangan seseorang. Perpisahan karena keadaan tak lagi bekerja dalam satu tim mampu membuatku begitu kehilangan seseorang. Baru dua (2) bulan terhitung mulai Bulan Maret aku bekerja sama dengan Pak Kabag, Bapak Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan semenjak aku di mutasi di Gedung ini. Entah, dibandingkan dengan Pak Kepala Sub Bagian, bekerja dengan Pak Kabag membuatku lebih merasa ikhlas dalam bekerja di lembaga ini. Jiwa kharismatik beliau, ketenangan dan cara Pak Kabag memimpin seakan menjadi magnet aku ga bisa berkata Tidak buat beliau dan berkata terus maju untuk lembaga ini. Pernah suatu sore saat lembur menyelesaikan semua berkas kegiatan, Pak Kabag memintaku membuatkan kopi untuk beliau. Seumur-umur aku ga suka kopi dan enggan bikin kopi, entah sore itu aku melatih diri dengan menanyakan takaran kopi dan gula untuk membuat kopi. Tapi bisa ditebak, kopi buatanku tentunya Tidak Layak. Bekerja dengan Pak Kabag terasa seakan bekerja dengan Bapak sendiri.

Siang ini kami bersama jajaran staf lainnya makan siang bersama beliau. Moment ini ternyata moment pamitan beliau karena esok akan dilantik untuk menduduki jabatan baru. Hampir semua staf mulai menahan tangis, kulihat Pak Sajidi driver langganan beliau mulai tidak bisa menahan tangis dengan selalu menundukkan kepala disusul beberapa Ibu-Ibu yang matanya mulai memerah dan berkaca-kaca. Aku sadar aku akan mulai mempunyai mata merah dan berkaca-kaca, hal yang seumur hidup paling kubenci melakukannya. Mulai kutahan mata ini agar tidak semakin merah, karena aku tahu menahan tangis bukan keahlianku. Aku sibuk onlen dengan hapeku, mulai mengabaikan tiap kata yang beliau lontarkan. Namun ketika sesekali kutatap Pak Kabag, mataku mulai memerah dan mulai mewek kayak Ibu lainnya. Kuseka terus mataku dan menahan napas biar ga cengeng.

Acara selesai, Pak Kabag mulai menghampiri kami satu persatu sambil berpelukan. Aku masih duduk di mejaku, ga sanggup aku nahan mataku yang sudah merah dan berkaca-kaca. Tiba giliranku sambil berdiri dan menghampiri beliau, aku  mulai tak mampu menahan tangis. Pak Kabag mulai menatapku dan tahu aku ga sanggup nahan mewek, dan mulai menyapaku “Mbak……“, aku diam. Dipeluknya diriku sambil mengulurkan tangannya. Hanya diam dan nanges yang bisa kulakukan, kubuatkan senyum di pipiku yang sekalipun itu berat untuk dilakukan. Karena Pak Kabag tinggi, beliau memeluk seakan aku ini anak beliau yang masih kecil di Jakarta. Aku mulai ga bisa nahan tangis lagi.

Selesai acara, kami mulai berhamburan keluar. Kulihat beberapa bapak-bapak mulai menenangkan diri masing-masing dengan membuang pandangan jauh ke luar. Aku dan Pak Sajidi sibuk di kamar mandi menyeka mata merah kami masing-masing. Sekembalinya ke meja, mulai kutenangkan diriku dengan duduk diam di meja. Kulihat beberapa kali Pak Kabag mondar mandir keluar masuk ruangan. Pukul 13.30 WIB, Pak Kabag mulai mengambil tas coklat kulitnya. Aku masih duduk di mejaku sambil sesekali melihat beliau. Pak Kabag dihampiri Ibu seruanganku, dan sambil melihatku seraya berkata “Mbak, saya pergi dulu ya Mbak….” Kuhampiri si Bapak, kujabat tangan beliau seperti waktu kujabat tangan Bapakku. Kami sama-sama tersenyum dan kalimat yang hanya bisa kuucapkan sehari ini untuk beliau hanya, “Hati-hati ya Pak“.

Suasana mulai mereda, aku masuk ke ruangan Bapak yang sudah ditinggalkan.Tertinggal beberapa berkas dan buku kerja beliau, permen karet putih dan laptop dinas yang biasa digunakannya. Yang kutahu, tempat tissu telah berpindah dari letak seperti biasanya dan kuyakini, beliau selama acara menahan tidak membuat kami semakin sedih dan hanya beliau yang tahu kapan beliau menangis di ruangannya.

Tak adalagi Bapak yang minta kopi, ndak adalagi Bapak yang ngesms nanyain kerjaan Pembukaan Prodi, ndak ada lagi yang minta dicheck email tentang kerjaan………

Silahkan Jalan Pak Kabag, saya akan merindukan pemimpin seperti Bapak…….

(quote : hal terindah dalam bekerja adalah memiliki seorang pemimpin yang mampu menghormati karyawan seperti memperlakukan dirinya)

Aku dan Kegalauanku

Pagi ini aku berbincang dengan Ibu seruanganku. Wanita bertubuh gempal dengan perawakan ala ABRI dan berambut keriting ini termasuk tipikal wanita keras yang dimiliki oleh kantor ini. Mbak Susi, hampir berumur 45 tahun lebih. Seorang janda yang mengajukan mutasi dari Kepulauan Riau sana untuk mengabdi di lingkungan pendidikan di Kota Gudeg ini. Sudah dua kali dia bercerai dengan dikarunia satu orang putri yang saat ini mengidap Kanker Darah (leukimia).

Pagi ini kami berbincang mengenai reshuffle pejabat dan staf di lingkungan ini. Dia menawariku untuk mutasi ke Kepulauan Riau, dia bilang “Mau mutasi ke luar Dek?“, kuanggukkan kepalaku dengan mantap. “Di Riau masih banyak yang membutuhkan tenaga sepertimu Dek!”, dia bilang dengan seksama. Kuanggukkan kepala dan bertanya, ” Kalau aku hanya seorang lulusan Diploma apakah benar-benar bisa mutasi mbak?“. Dari perbincangan ini satu kesimpulan yang kudapat bahwasanya jika saya bosan di sini saya bisa mengajukan pindah ke mana saja asal di luar Jawa dengan satu risiko besar sulit untuk masuk ke Pulau Jawa lagi.

Giliranku mengajukan pertanyaan ke si Ibu Perkasa ini. “Mbak bahagiakah bekerja di sini?“, kuajukan pertanyaan sesederhana mungkin.  Di sini notabene tidak dapat penghasilan sebesar di Kantor Pertanahan di Daerah. Lingkungan juga sangat tua dan klasik seperti jaman 80-an. Tidak ada gairah kerja etos tinggi dan baik di lingkungan berpendidikan ini. Mbak Susi menjawabnya sembari curhat, “Aku lebih tenang Dek kerja di sini, duite pas-pas an tapi aku iso luwih cedhak ngancani anakku sing keno Leukimia, uripku yo ra dipenuhi iri dengki kok Dek, neng kantor ben dino mung nyawang bondo lan duit thok. Atine rasane hampa mung aku duwe duit sak akeh-akeh e lho Dik. Luwih tentrem kuwi luwih kepenak ketimbang ra duwe ketenangan neng batin iki“. Lalu dia bertanya, “Jadi mau pindah ke Riau?“.

Aku terdiam sembari tersenyum manis menampilkan lesung pipi kananku, jawaban itu mencengangkanku, apakah ini yang benar-benar aku inginkan? Pekerjaan berirama tinggi dengan penghasilan setingkat pejabat di negeri ini? Mencari lingkungan tidak seoldiest di instansi ini? Ingin bekerja dihargai dan tidak merasa alien di kantor ini? Kubenamkan hatiku dalam-dalam, merogoh di mana letak Tuhanku berada seraya berdoa

“Maafkan aku Tuhan, telah Kau dekatkan Karunia terbesar yang Kau berikan untukku

namun aku tidak melihat kenikmatanMu itu sedekat Kamu menyapaku”

Kutanggalkan sejenak keinginkanku memutasikan diri ke luar Jawa, suatu saat nanti Tuhan mengabulkannya dengan cara yang berbeda. Tuhan aku masih ingin keluar dari instansi ini entah bagaimana caranya.

[aku dan kegalauanku]

Yellow Ranger

location Masjid Pakualaman
capture 27 oktober 2010
at 14:12:26
by Dani Indomielezat

details :
Exposure : 1/13 sec at f/4,8
Focal length : 30mm
ISO speed rating : ISO 200
Flash : did not fire
Lens : 18.0-55.0 mm f/3.5-5.6
Model : Nikon D60

editing using :
adobe lightroom 2.7 and www.piknic.com

jangan takut terlambat apa-apa

“Dan, besok si X tunangan lho”, “Dan, si Y sudah punya anak 2 lho”, ” Dan, bantu aku cari kreditan rumah di Jogja ya”, “Eh aku habis beli Downtube Nova lho”, “Tau ga kemarin si Pak X pake Innova baru lho”, ” Dan mbakyumu ngirin duit nggo Bapak 1juta”, ” Dan, kapan kuwe merrid?” ” Kamu cepet sekolah ambil S1 aja trus nanti lanjut pake beasiswa or masuk ke DIV aja…” “Dan, habis ini kamu mau beli apa?”

Begitulah, penggalan pertanyaan dan berita dari teman-teman maupun keluarga yang datang silih berganti mengisi pikiran. Entah, dari dulu rasanya saya masih stagnan di level ini saja. Hidup di Jogja masih bergelar diploma, berstatus lajang belum menikah dengan uang pas-pas an, belum punya duit ratusan buat beli rumah, downtuba nova, collossus atau bahkan mengirim ke rekening Bapak buat cicilan BRI setiap bulannya. Saya sering merasa kalah dalam taraf kehidupan, saat dulu saya sudah punya pacar dan teman baik saya masih berstatus bujang. Lalu tiba-tiba teman saya berstatus engaged atau married sedang saya masih berstatus pacar atau belum menikah.

 

Hidup memang ajaib penuh dengan kejutan di sana sini. Saat saya masih asyik maen sana-sini, banyak teman baik saya seakan sudah menjalani arti kehidupan mapan dan punya suami ataupun istri. Saat saya masih belajar banyak hal lewat bantuan simbah Google, teman saya sudah bisa setir mobil harrier atau sudah bergelar doktor dari Jerman. Hidupku rasanya stagnan.

Lalu, kuputar jarum tanganku berharap waktu bisa kuperlambat 2tahun dari sekarang. Saat pikiran masih tidak se-koyok sekarang. Ah, rasanya hidup memang tanpa beban. Kulihat mesin jahit Bapak di rumah, rasanya memang dia tidak pernah berubah. Hanya harga kain dan tetek bengeknya saja yang semakin bertambah. Lalu, mengapa saya harus takut tertinggal atau terlambat punya apa-apa?

Read the rest…

kata-kata bapak……………

Pagi itu aku meluapkan emosiku. Sedikit menahan tetes-tetes kesedihan besar yang selama ini menggayuhi langkahku. Bagiku Jogja tidak memberi kebahagian dalam paruh perjalanan kedewasaan ini. Terduduk aku menghadap bapak dan ibu menggelar seakan sidang intern di ruang tamu. “Dani pengen cari kerjaan baru, menjadi PNS itu membosankan sangat menjemukan. Kalau masalah gaji saja yang dipertahankan, lalu dimana letak kebahagiaan. Aku jemu hanya duduk dan menanti gaji di awal bulan….” Begitulah penggalan luapan kesedihan besar yang menggelutiku.

Sudah kutebak, bapak ibuku menentang keras keinginanku. Mereka menganggap aku benar-benar akan resign dari status PNS ini. Perdebatan pun mulai memanas. Dengan sedikit ketus kuutarakan kesedihan besarku selama ini. “Kalau jadi PNS itu hanya sekedar gengsi untuk menaikkan status keluarga berarti itu bukan kebahagiaan untukku. Saya pengen bekerja, maju dan terus maju bukan hanya duduk internetan.  Aku bosan bekerja dengan sistem feodal dengan orang-orang tua yang sangat membosankan. Tidak ada kata maju di sana, aku hanya akan tenggelam dalam kebutaan berstatus Pegawai Negeri….” Kulihat ibuku mulai menahan tangis, raut lelahnya mulai terlukis mengisyaratkan bahwa aku putri terkeras kepala yang dia punyai.

Luapan kesedihan besar mulai merambah kekesedihan lainnya. Ibuku telah memberi label padaku akibat kelalaianku sembahyang dan berpuasa. Ibuku berpikir yang lebih sering mendeskritkan aku tentang aku dan agama. “Kamu ini mbok lebih ingat Allah, sholatmu ditegakkan, sering lupa jadi kayak gini pikirannya. Pikiranmu iki aneh kayak cah cilik. Ibuk aneh kuwe duwe pikiran koyo ngene iki….”

Kutegaskan pada ibuku, layaknya sidang dimana tiap orang berhak berkata benar, ingin mulai mengajak berdiskusi ibuku bahwasanya saya bisa berpikir lebih dewasa melebihi yang beliau perkirakan. “Buk, ini fokus ke kerjaan bukan ke masalah agama. Kalo ngomonge kayak gini terus, ujungujungnya mung beralih ke dekritisasi aku ini lalai beribadah….” Debatpun tak ujung dan tak bertepi.

Bapakku mulai mengambil peran dalam sidang. “Dan, bapak wes tau ngalami sing tok alami. Sabar, sabar, sabar…. Bapak mesti ngelingke ben sabar. Ujian iki iso dianggep kanugrahan nak kuwe iso maknai hakikate. Elingo pesen Bapak, sabar prihatin lan nyukuri sing diparingi Gusti Pangeran. Ngibadahmu sing lalai bapak yo maklumi, kuwi tahapan nggo luwih ngenal sing gawe urip…….” Begitulah penggalan pesan Bapak untukku. Tak banyak bicara namun setidaknya aku lebih dapat memahaminya.

“Bapak rewangi prihatin, poso, donga lan ngamal…..Bapak dongake kuwe kui dadi anak sing sholeh. Nak duwe gegayuhan lakokno lakune bapak, insyaAllah Gusti Pangeran ngekeki 1000 dalan. Dalan sing ra mbok nyono-nyono, gegayuhanmu ra mesti kemrungsung tok turuti…….” Kalimat bapak mencairkan kesedihan besarku. Aku tahu, penggalan kalimat itu bermakna lebih dari yang aku sendiri mampu resapi. Beliau sangat mendukung dengan kemandirian yangg kumiliki dan sepenuhnya meridhoi yang kupilih, namun bukan berarti dengan meninggalkan pekerjaan yang selama ini menjadi luapan doa setiap orangtua untuk putrinya yang keras kepala. Lalu kusodorkan beberapa proposal kehidupan ke depan untuk di ACC dan ditandai sebagai suatu bentuk kesepahaman.

Kalimat bapak bagian termahal dari perjalanan hidupku. Lebih mahal dari gaji manapun dari pekerjaan apapun, karena rasa syukur adalah bagian termahal dari torehan kehidupan, dan sekuat apapun keinginan harus diimbangi dengan kebijaksanaan dan kesabaran.

Kata-kata Bapak adalah 1 dari 1000 jalan menuju apa yang memang sedang kuinginkan…..


[untuk Bapak utusan Kebijaksanaan Sang Kuasa, dan Ibu yang melahirkan putri yang keras kepala]