Pagi itu aku meluapkan emosiku. Sedikit menahan tetes-tetes kesedihan besar yang selama ini menggayuhi langkahku. Bagiku Jogja tidak memberi kebahagian dalam paruh perjalanan kedewasaan ini. Terduduk aku menghadap bapak dan ibu menggelar seakan sidang intern di ruang tamu. “Dani pengen cari kerjaan baru, menjadi PNS itu membosankan sangat menjemukan. Kalau masalah gaji saja yang dipertahankan, lalu dimana letak kebahagiaan. Aku jemu hanya duduk dan menanti gaji di awal bulan….” Begitulah penggalan luapan kesedihan besar yang menggelutiku.
Sudah kutebak, bapak ibuku menentang keras keinginanku. Mereka menganggap aku benar-benar akan resign dari status PNS ini. Perdebatan pun mulai memanas. Dengan sedikit ketus kuutarakan kesedihan besarku selama ini. “Kalau jadi PNS itu hanya sekedar gengsi untuk menaikkan status keluarga berarti itu bukan kebahagiaan untukku. Saya pengen bekerja, maju dan terus maju bukan hanya duduk internetan. Aku bosan bekerja dengan sistem feodal dengan orang-orang tua yang sangat membosankan. Tidak ada kata maju di sana, aku hanya akan tenggelam dalam kebutaan berstatus Pegawai Negeri….” Kulihat ibuku mulai menahan tangis, raut lelahnya mulai terlukis mengisyaratkan bahwa aku putri terkeras kepala yang dia punyai.
Luapan kesedihan besar mulai merambah kekesedihan lainnya. Ibuku telah memberi label padaku akibat kelalaianku sembahyang dan berpuasa. Ibuku berpikir yang lebih sering mendeskritkan aku tentang aku dan agama. “Kamu ini mbok lebih ingat Allah, sholatmu ditegakkan, sering lupa jadi kayak gini pikirannya. Pikiranmu iki aneh kayak cah cilik. Ibuk aneh kuwe duwe pikiran koyo ngene iki….”
Kutegaskan pada ibuku, layaknya sidang dimana tiap orang berhak berkata benar, ingin mulai mengajak berdiskusi ibuku bahwasanya saya bisa berpikir lebih dewasa melebihi yang beliau perkirakan. “Buk, ini fokus ke kerjaan bukan ke masalah agama. Kalo ngomonge kayak gini terus, ujungujungnya mung beralih ke dekritisasi aku ini lalai beribadah….” Debatpun tak ujung dan tak bertepi.
Bapakku mulai mengambil peran dalam sidang. “Dan, bapak wes tau ngalami sing tok alami. Sabar, sabar, sabar…. Bapak mesti ngelingke ben sabar. Ujian iki iso dianggep kanugrahan nak kuwe iso maknai hakikate. Elingo pesen Bapak, sabar prihatin lan nyukuri sing diparingi Gusti Pangeran. Ngibadahmu sing lalai bapak yo maklumi, kuwi tahapan nggo luwih ngenal sing gawe urip…….” Begitulah penggalan pesan Bapak untukku. Tak banyak bicara namun setidaknya aku lebih dapat memahaminya.
“Bapak rewangi prihatin, poso, donga lan ngamal…..Bapak dongake kuwe kui dadi anak sing sholeh. Nak duwe gegayuhan lakokno lakune bapak, insyaAllah Gusti Pangeran ngekeki 1000 dalan. Dalan sing ra mbok nyono-nyono, gegayuhanmu ra mesti kemrungsung tok turuti…….” Kalimat bapak mencairkan kesedihan besarku. Aku tahu, penggalan kalimat itu bermakna lebih dari yang aku sendiri mampu resapi. Beliau sangat mendukung dengan kemandirian yangg kumiliki dan sepenuhnya meridhoi yang kupilih, namun bukan berarti dengan meninggalkan pekerjaan yang selama ini menjadi luapan doa setiap orangtua untuk putrinya yang keras kepala. Lalu kusodorkan beberapa proposal kehidupan ke depan untuk di ACC dan ditandai sebagai suatu bentuk kesepahaman.
Kalimat bapak bagian termahal dari perjalanan hidupku. Lebih mahal dari gaji manapun dari pekerjaan apapun, karena rasa syukur adalah bagian termahal dari torehan kehidupan, dan sekuat apapun keinginan harus diimbangi dengan kebijaksanaan dan kesabaran.
Kata-kata Bapak adalah 1 dari 1000 jalan menuju apa yang memang sedang kuinginkan…..
[untuk Bapak utusan Kebijaksanaan Sang Kuasa, dan Ibu yang melahirkan putri yang keras kepala]